Pengangguran

Bekasi, 2004

Bekasi masih suam suam kuku, matahari jam sembilan pagi mulai menyorotku saat sedang belanja sayur di mobil kolbak yang datang tepat waktu. 

Para asisten rumah tangga, ibu rumah tangga, dan aku si pengangguran pun mengerubungi mamang sayur yang selalu mengenakan topi dan tas pinggang kecil. Tas pinggangnya sudahlah pasti berisi harta Karun yang dikumpulkan dari kami semua penghuni komplek. Balasannya kami bisa membawa pulang bahan bahan makanan untuk dimasak.

Aku melipat uang lima puluh ribu erat erat, ya karena jatah beli sayur dari kakakku memang segitu jumlahnya. 

Aku tinggal berempat di rumah tanteku yang baik hati mempersilahkan kami menempati rumah kosong di kawasan yang cukup elite di Bekasi, Kemang Pratama, walaupun kondisi keuangan kami bisa dibilang sulit.

Kakak laki laki sudah sedari pagi mengejar bis jemputan, dia bekerja di daerah Tangerang. Sementara kakak perempuanku ikut bantu bantu tanteku mengurus catering. Adik lelakiku masih kuliah di Gunadharma. Aku baru saja lulus kuliah dari universitas di Semarang. Dan aku belum dapat kerja, lamaran sudah aku kirimkan ratusan lembar lewat kantor pos. 

Terkadang aku menerima telpon panggilan, mulai dari perusahaan cargo, perusahaan media kompas, perusahaan bumbu penyedap, bahkan sekolah TK alam. Tapi aku belum beruntung diterima disana. Biasanya aku gagal di group discussion. 

Wah kalau lihat para pelamar yang lain dari lulusan universitas yang bergengsi, UI , UGM bahkan dari lulusan luar negeri pun kadang ada.

Mereka aktif berbicara, sementara aku cuma seperti menggugurkan kewajiban hanya mengacungkan jari sekali dan memberi pendapat. Aku lebih terhanyut menjadi pengamat mereka semua. 

Jika grup diskusi selesai, kami menunggu sekitar 20 menit, lalu staf HRD mereka keluar dan menempelkan pengumuman, hasilnya bisa ditebak. Namaku tidak tercantum.

Tapi semangatku tak patah, aku ikut kursus Excel di UI, ya biarpun aku gak kuliah di universitas jaket kuning setidaknya aku pernah menginjakkan kakiku di universitas yang terkenal susah masuk dan susah keluar selama 3 bulan. 

Pernah satu waktu saat aku pulang kursus, aku pakai jaket KKN almamaterku dulu di Undip. Dan aku disapa oleh sepasang suami istri yang ternyata mereka juga lulusan Undip, senangnya luar biasa.

Jika melihat fresh graduates yang sudah dapat kerja aku cuma bisa berharap dan bertanya tanya kapan giliranku datang. Karena saat ini, kesibukanku tak jauh dari urusan bersih bersih rumah, sementara ketiga saudaraku punya kesibukan sendiri. 

Aku memasukan buah nanas dan ikan kembung ke dalam baskom. Nanas kuning dengan mata coklat yang sudah bersih begitu menggiurkan, aku sampai meneteskan air liurku saking tergodanya.

Sementara ikan kembung, aku rendam sebentar untuk goreng nantinya. Sebenarnya kami berempat sempat memiliki asisten rumah tangga, Kokom namanya, dia yang bertugas mencuci, masak, mengepel. Tapi satu waktu dia menginjak tegel yang bawahnya kosong karena dipakai saluran air, mungkin saking berat badannya dan tegelnya juga rapuh. Kakinya terluka parah. Aku membawanya ke klinik, yang kemudian dijahit oleh dokter. Tapi kaitannya sepertinya infeksi, akhirnya dia pulang dan mengabarkan pada kami bahwa dia nanti akan bekerja di warung makan Saja. 

Dengan keadaan kami yang pas-pasan mengcover biaya obat obatan Kokom cukup menguras dompet. Bukannya tidak mau tapi dananya memang tidak ada. Akhirnya pekerjaan kokom dengan sukarela aku gantikan. 

Toh sebenarnya aku sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah. Aku menuangkan air hangat dana sedikit garam, kupotongi nanas dan kucemplungkan satu persatu. Segar, nikmat sekali. 

Setelah menggoreng ikan kembung dan sarapan barulah aku bisa bersantai. Kubuka lembaran halaman koran dan mulai menandai mana saja lowongan yang akan menjadi target incaranku. 



.